HAKIKAT PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN


Kata Pengantar

                  Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan hidayah-Nya hingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari akan keterbatasan dan kekurangan makalah ini, untuk itu kami serahkan kepada dosen pembimbing untuk memberikan saran dan kritiknya yang bersifat memperbaiki dan membangun untuk mengoptimalkan makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat dan membangun untuk memberi semangat belajar dimasa yang akan dating khususnya bagi kami umumnya bagi pembaca yang lain

                            Hakikat Pertumbuhan dan Perkembangan

Dengan mempelajari perkembangan peserta didik kita akan memperoleh beberapa keuntungan. Pertama, kita akan mempunyai ekspestasi yang nyata tentang anak dan ramaja. Dari psikologi perkembangan akan diketahui pada umur berapa anak mulai berbicara dan mulai mampu berfikir abstrack. Hal-hal itu merupakan gambaran umum yang terjadi pada kebanyakan anak, disamping itu akan diketahui pula pada umur beberapa anak tertentu yang akan memperoleh keterampilan prilaku da emosi khsusus. Kedua, pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak membantu kita untuk merespons sebagaimana mestinya pada prilaku tertentu dari seorang anak. Bila seorang anak dari Taman Kanak-kanak tidak mau sekolah lagi karena diganggu temannya, apa yang harus dilakukan oleh guru dan orang tuanya? Bila anak selalu ingin merebut mainan dari temannya apakah dibiarkan saja? Psikologi perkembangan akan membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan menunjukan sumber-sumber jawaban serta pola-pola anak mengenai pikiran, perasaan dan prilakunya. Ketiga, pengetahuan tentang perkembangan anak akan membantu mengenali berbagai penyimpangan dari perkembanganyang normal. Keempat, terakhir, dengan mempelajari perkembangan anaka akan membantu memahami diri sendiri.

Berikut ini adalah beberapa hal yang mendasari pentingnya mengetahui pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.

  1. 1.      Masa Perkembangan Yang Cepat

Pada anak terjadi pertumbuhan-pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan perubahan-perubahan yang dialami spesies lain. Perubahan fisik, misalnya pada tahun pertama lebih cepat dari pada tahun-tahun berikutnya.

Hal yang sama terjadi juga pada perubahan yang menyangkut interaksi social, perolehan dan penggunaan bahasa, kemampuan mengingat serta berbagai fungsi lainnya.

  1. 2.      Pengaruh Yang Lama

Alasan lainnya mengapa mempelajari anak ialah bahwa peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman pada tahun-tahun awal menunjukan pengaruh yang lama dan kuat terhadap perkembangan individu pada masa-masa berikutnya. Kebanyakan ahli teori psikologi berpendapat bahwa apa yang terjadi hari ini sangant banyak ditentukan oleh perkembangan kita sebagai anak.

  1. 3.      Proses Yang Kompleks

Sebagai peneliti yang mencoba memahami prilaku orang dewasa yang kompleks, berpendapat bahwa mengkaji tentang bagaimana prilaku itu pada saat masih sederhana akan sangat berguna. Misalnya ialah bahwa kebanyakan orang dapat membuat kalimat yang panjang dan dapat dimengerti oleh orang lain. Manusia mampu berkomunikasi dari cara yang sederhana sampai yang kompleks karena bahasa yang digunakan mengikuti aturan-aturan tertentu. Tetapi menentukan apa aturan itu dan bagaimana menggunakan adalah sulit.  Suatu pendekatan terhadap masalah ini adalah dengan mempelajari proses kemampuan berbahasa. Anak membentuk kaliamat yang hanya terdiri atas satu atau dua kata, kalimat itu muncul dengan mengikuti aturan yang diajarkan oleh orang dewasa. Dengan mengkaji kalimat pertama tersebut para peneliti bahasa bertambah wawasannya tentang mekanisme cara berbicara orang dewasa yang lebih kompleks.

  1. 4.      Nilai yang diterapkan

Penelitian tentang tahap awal perkembangan sosial secara relevan berkaitan dengan orang tua tentang perannya dalam kehidupan sehari-hari, percobaan tentang strategi pemecahan masalah pada anak akan memberikan inforasi berharga tentang metode belajar yang baik. Hasil penelitian atau pengkajian teoritis dapat secara langsung atau tidal dapat mempengaruhi pada pola pendidikan atau pengajaran.

  1. 5.      Masalah yang menarik

Anak merupakan mahluk yang mengagumkan dan penuh teka teki serta menarik untuk dikaji. Kemudahan anak umur dua tahun untuk mempelajari bahasa ibunya dan kreativitas anak untuk bermain dengan temannya merupakan dua hal dari karakteristik anak yang sedang berkembang. Misalnya banyak hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan anak yang merupakan misteri yang menarik. Dalam hal ini ilmu pengetahuan lebih banyak menjumpai peretanyaan-pertanyaan dari pada jawabannya.

  1. B.           FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMABANGAN

Sejak awal tahun 1980 an semakin diakuinya pengaruh keturunan (ginetik) terhadap perbedaan individu. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian perilaku ginetik yang mendukung pentingnya pengaruh keturunan menunjukan tentang pentingnya pengatuh lingkungan. Kecerdasan dan temptamen merupakan aspek-aspek yang laing banyak di telaah yang perkemabngannya diperngaruhi oleh keturunan.

  1. 1.      Kecerdasan

Athur Jesnsen (1969) mengemukakan pendapatnya bahwa kecerdasan itu diwariskan (diturunkan). Ia juga mengemukakan bahwa lingkungan dan biaya hanya mempunyai peranan minimal dalam kecerdasan. Dia telah melakukan beberapapenelitian tentang kecerdasan, diantaranya ada yang membandingkan tentang anak kembar yang barasal dari satu telur (identical twins) dan yang dari dua telur (fraternal twins). Identical twins memiliki genetik yang identik, karena itu kecerdasan (IQ) seharusnya sama. Fraternal twins pada anak sekandung genetiknya tidak sama karena itu IQ nya pun tidak sama. Menurut Jensen bila pengaruh lingkungan lebih penting pada indentical twins yang berdasarkan pada lingkungan yang berbeda, seharusnya menunjukan IQ yang berbeda pula. Kajian terhadap hasil penelitian menunjukan bahwa identical twins yang berdasarkan pada dua lingkungan yang berbeda korelasi rata-rata IQ nya. 82. dua saudara yang dipelihara pada dula lingkungan yang berbeda korelasi rata-rata IQ nya 50.

Menurut Josen IQ yang diukur dengan tes kecerdasan yang beku merupakan indicator kecerdasan yang baik. Cara individu memecahkan masalah sehari-hari penyesuaian dirinya terhadap lingkungan kerja dan lingkungan social, merupakan aspk-aspek kecerdasan yang penting dan tidak terukur oleh kecerdasan yangbakujang digunakan oleh Josen. Kareana itu tidaklah mengherankan bahwa studi tentang genetik menunjukan bahwa lingkungan mempunyai pengaruh yang lemah terhadap kecerdasan.

Menurut Josen pengaruh keturunan kecerdasan sebesar 80 persen. Kecerdasan memang dipengaruhi oleh keturunan tetapi kebanyakan ahli perkembangan menyatakan bahwa pengaruh itu berkisar 50 persen.

  1. 2.      Tempramen

Tempramen adalahgayaprilaku karakteristik individu dalam merespons. Ahli-ahli perkembangan sangat tertarik mengenai tempramen bayi. Sebagian bayi sangat aktif menggerak-gerakan tangan, kaki dan mulutnya dengan keras, sebagian lagi lebih tenang, sebagian anak menjelajahi lingkungannya dengan giat pada waktu yang lama dan sebagian lagi tidak demikian. Sebagian bayi merespons orang lain dengan hangat, sebagian lagi pasif dan acuh tidak acuh. Gaya-gaya perilaku tersebut diatas menunjukan tempramen seseorang.

Menurut Thomas & Chess (1991) ada tiga tipe dasar tempramen yaitu mudah, sulit, dan lambat untuk dibangkitkan.

  1. Anak yang mudah umumnya mempunyai suasana hati yang positif dan dapat dengan cepat membentuk kebiasaan yang teratur, serta dengan mudah pula menyelesaikan diri dengan pengalaman baru
  2. Anak yang sulit cenderung untuk beraksi secara negatif serta sering menangis dan lambat untuk menerima pengalaman-pengalaman baru
  3. Anak yang lambat untuk dibangkitkan mempunyai tingkat kegiatan yang rendah, kadang-kadang negative, dan penyesuaian diri yang rendah dengan lingkungan atau pengalaman baru.

Ches dan Thomas berpendapat bahwa tempramen adalah karakteristik bayi yang baru lahir dan akan dibentuk dan dimodifikasi oleh pengalaman-pengalaman anak pada masa-masa berikutnya.Parapeneliti menemukan bahwa indeks pengaruh lingkungan terhadap tempramen sebesar 50% sampai 60% itu menunjukan lemahnya pengarus tersebut. Kekuatan pengaruh ini biasanya menurun saat anak itu tumbuh menjadi lebih besar. Menetap atau konsisten tidaknya tempramen bergantung kepada “kesesuaian” hubungan antara anak dengan orang tuanya. Orang tua mempengaruhi anak, tetapi anakpun mempengaruhi orang tua. Orang tua dapat menjauh dari anaknya yang sulit, atau mereka dapat menegur dan menghukumnya., hal ini akan menjadikan anak yang sulit, menjadi lebih sulit lagi. Orang tua yang luwes dapat memberi pengaruh yang menyenangkan terhadap anak yang sulit atau akan tetap menunjukan kasih sayang walau anak menjauh atau berkeras kepala.

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa keturunan dapat mempengaruhi tempramen. Tingkat pengaruh ini bergantung pada respons orang tua terhadap anak-anaknya dengan pengalaman-pengalaman masa kecil yang ditemui dalam lingkungan.

  1. 3.      Interaksi Keturunan Lingkungan Dan Perkembangan

Keturunan dan lingkungan berjalan bersama atau bekerja sama dan menghasilkan individu dengan kecerdasan, tempramen tinggi dan berat badan, minat yang khas. Karena pengaruh lingkungan bergantung pada karakteristik genetik, maka dapat dikatakan bahwa antara keduanya terdapat interksi.

Pengaruh genetic terhadap kecerdasan terjadi pada awal perkembangan anak dan berlanjut terus sampai dewasa. Kita ketahui pula bahwa dengan dibesarkan pada keluarga yang sama dapat terjadi perbedaan kecerdasan secara individual dengan variasi yang kecil pada kepribadian dan minat.  Salah satu alasan terjadinya hal itu ialah mungkin karena keluarga mempunyai penekanan yang sama kepada anak-anaknya berkenaan dengan perkembangan kecerdasan yaitu dengan mendorong anak mencapai tingkat tertinggi.

Contoh lain pubertas dan menopause bukanlah semata-mata hasil lingkungan. Walaupun pubertas dan menopause dapat dipengaruhi oleh factor-faktor lingkungan seperti nutrisi, beratm obat-obatan dan kesehatan, evolusi dasar dan program genetic. Pengaruh keturunan pada pubertas dan menopause tidak diabaikan.

  1. C.          FASE – FASE PERKEMBANGAN

Menurut Santrok dan Yussen (1992) perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai pada saat terjadi pembuahan dan berlangsung terus selama siklus kehidupan. Dalam perkembangan terdapat pertumbuhan. Pola gerakan itu kompleks karena merupakan hasil (produk) dari beberapa proses: proses biologis, proses kognitif dan proses sosial.

Proses-proses biologis merupakan perubahan-perubahan fisik individu. Gen yang diwarisi dari orang tua. Perkembangan otak, penambahan tinggi dan berat, keterampilan motorik, dan perubahan-perubahan hormon pada masa puber mencerminkan peranan proses-proses biologis dalam perkembangan.

Proses kognitif meliputi perubahan-perubahan yang terjadi pada individu mengenai pemikiran, kecerdasan dan bahasa. Mengamati gerakan mainan bayi yang digantung, menghubungkan dua kata menjadi kalimat, menghafal puisi dan memecahkan soal-soal matematik, mencermikan peranan proses-proses kognitif dalam perkembangan anak.

Proses-proses sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan individu dengan orang lain, perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan individu dengan orang lain, perubahan-perubahan dalam emosi dan perubahan-perubahan dalam kepribadian. Senyuman bayi sebagai respon terhadap sentuhan ibunya, sikap agresif anak laki-laki terhadap teman mainnya, kewaspadaan seorang gadis terhadap lingkungannya mencerminkan peranan proses sosial dalam perkembangan anak.

Hendaknya selalu diingat bahwa antara ketiga proses, yaitu biologis, kognitif dan sosial terdapat jalinan yang erat.

Gambar 1.1

Perubahan pada perkembangan merupakan produk dari proses-proses biologis, kognitif dan sosial. Proses-proses itu terjadi pada perkembangan manusia yang berlangsung pada keseluruhan siklus hidupnya.

Santrok dan Yussen membaginya ataslimayaitu :

  1. Fase pra natal (saat dalam kandungan) adalah waktu yang terletak antara masa pembuahan dan masa kelahiran. Pada saat ini terjadi pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel menjadi satu organisme yang lengkap dengan otak dan kemampuan berprilaku, dihasilkan dalam waktu lebih kurang sembilan bulan.
  2. Fase Bayi adalah saat perkembangan yang berlangsung sejak lahir sampai 18 atau 24 bulan. Masa ini adalah masa yang sangat bergantung kepada orang tua. Banyak kegiatan-kegiatan psikologis yang baru dimulai misalnya ; bahasa, koordinasi sensori motor dan sosialisasi.
  3. Fase kanak-kanak awal adalah fase perkembangan yang berlangsung sejak akhir masa bayi sampai 5 atau 6 tahun, kadang-kadang disebut masa prasekolah. Selama fase ini mereka belajar melakukan sendiri banyak hal dan berkembang keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan kesiapan untuk bersekolah dan memanfaatkan waktu selama beberapa jam untuk bermain sendiri ataupun dengan temannya. Memasuki kelas satu SD manandai berakhirnya fase ini.
  4. Fase kanak-kanak tengah dan akhir adalah fase perkembangan yang berlangsung sejak kira-kira umur 6 sampai 11 tahun, sama dengan masa usia sekolah dasar. Anak-anak menguasai keterampilan-keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung. Secara formal mereka mulai memasuki dunia yang lebih luas dengan budayanya. Pencapaian prestasi menjadi arah perhatian pada dunia anak, dan pengendalian diri sendiri bertambah pula.
  1. Fase remaja adalah masa perkembangan yang merupakan transisi dari masa kanak-kanak  ke masa dewasa awal, yang dimulai kira-kira umur 10 sampai 12 tahun dan berakhir kira – kira umur 18 sampai 22 tahun. Remaja mengalami perubahan-perubahan fisik yang sangat cepat, perubahan perbandingan ukuran bagian-bagiab badan, berkembangnya karakteristik seksual seperti membesarnya ukuran payudara, tumbuhnya rambut pada baian tertentu dan perubahan suara. Pada fase ini dilakukan upaya-upaya untuk mandiri dan pencarian identitas diri. Pemikirannya lebih logis, abstrak dan idealis. Semakin lama banyak waktu dimanfaatkan diluar keluarga.

Pada saat ini  para ahli perkembangna tidak lagi berpendapat bahwa perubahan-perubahan akan berakhir pada fase ini. Mereka mengatakan bahwa perkembangan merupakan proses yang terjadi sepanjang hayat.

Keterjalinan proses-proses biologis, kognitif dan sosial menghasilkan fase-fase perkembangnan, seperti tampak pada gambar berikut :

 
  • Remaja
    Kanak-kanak Akhir
    Kanak-kanak awal
    Bayi
    Prenatal

D.     POLA – POLA PERKEMBANGAN AFEKTIF PADA MANUSIA

Seorang ahli psikoanalisa dan sekaligus seorang pendidik, Erik H. Erikson mengemukakan bahwa perkembangan manusia adalah sintetis dari tugas-tugas perkembangan dan tugas-tugas sosial. Dikemukakan pula bahwa perkembangan afektif merupakan dasar perkembangan manusia. Erikson melahirkan teori perkembangan afektif yang terdiri atas delapan tahap.

  1. 1.        Trust vs Mistrus/ Kepercayaan Dasar (0;0 – 1;0)

Bayi yang kebutuhannya terpenuhi waktu ia bangun, keresahannya segera terhapus, selalu dibuai dan diperlakukan sebaik-baiknya, diajak main dan bicara, akan tumbuh perasaannya bahwa dunia ini tgempat yang aman dengan orang-orang disekitarnya yang selalu bersedia menolong dan dapat dijadikan tempat ia menggantungkan nasibnya. Jika pemeliharaan terhadap bayi itu tidak menetap, tidak memadai sebagaimana mestinya, serta terkandung didalamnya sikap-sikap menolak, akan tumbuhlah pada  bayi itu rasa takut serta ketidakpercayaan yang mendasar terhadap dunia sekelilingnya dan terhadap orang – orang disekitarnya. Perasaan ini akan terus terbawa pada tingkat-tingkat perkembangan berikutnya.

  1. 2.        Autonomy vs Shame adn Doubt/Otonomi (1;0 – 3;0)

Pada tahap ini Erikson melihat munculnya autonomy. Dimensi autonomy ini timbulnya karena adanya kemampuan motoris dan mental anak. Pada saat ini bukan hanya berjalan, tetapi juga memanjat, menutup-membuka, menjatuhkan, menarik, dan mendorong, memegang dan melepaskan. Anak sangat bangga dengan kemampuan ini dan ia ingin melakukan banyak hal sendiri. Orang tua sebaiknya menyadari bahwa anak butuh melakukan sendiri hal-hal yang sesuai dengan kemampuannya menurut langkah dan waktunya sendri. Anak kemudian akan mengembangkan perasaannya bahwa ia dapat mengendalikan otot-ototnya, dorongan-dorongannya, serta mengendalikan diri dan lingkungannya.

Orang tua yang telalu melindungi  dan selalu mencela hasil pekerjaan anak-anak, berarti telah memupuk rasa malu dan ragu yang berlebihan sehungga anak tidak dapat mengendalikan dunia dan dirinya sendiri.

Jika anak meninggalkan masa perkembangan ini dengan autonomi yang lebih kecil dari pada rasa malu dan ragu, ia akan mengalami kesulitan untuk memperoleh autonomi pada masa remaja dan masa dewasanya. Sebaliknya anak yang dapat melalui masa ini dengan adanya keseimbangan serta dapat mengatasi rasa malu dan ragu dengan rasa autonomus, maka ia sudah siap menghadapi siklus-siklus kehidupan berikutnya. Namun demikian keseimbangan yang diperoleh pada masa ini dapat berubah ke arah positif maupun negatif oleh peristiwa-peristiwa di masa selanjutnya.

  1. 3.        Initiatives vs Guilt / inisiatif (3;0 – 5;0)

Inisiatif anak akan lebih terdorong dan terpupuk bila orang tua memberi respon yang baik terhadap keinginan anak untuk bebas dalam melakukan kegiatan-kegiatan motoris sendiri dan bukan hanya bereaksi atau meniru anak-anak lain. Hal yang sama terjadi pada kemampuan anak untuk menggunakan bahasa dan kegiatan fantasi. Dimensi sosial pada tahap ini mempunyai dua ujung : inititive               guilt. Anak yang diberi kebebasan dan kesempatan untuk berinisiatif pada permainan motoris serta mendapat jawaban yangmemadai dari pertanyaan –pertanyaan yang diajukan (Iintelectual inititive). Maka inisiatifnya akan berkembang dengan pesat.

  1. 4.        Industry vs Inferiority / produktivitas (6;0 – – 11;00)

Anak mulai mampu berpikir deduktif, bermain dan belajar menurut peraturan yang ada. Dimensi psikososial yang muncul pada masa ini adalah :

Sense of industry                                         sense of inferiority

Anak didorong untuk membuat, melakukan dan mengerjakan dengan benda-benda yang praktis, danmengerjakannya sampai selesai sehingga menghasilkan sesuatu.

Pada usia Sekolah Dasar ini dunia anak bukan hanya lingkungan rumah saja melainkan mencakup juga lembaga – lembaga lain yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan individu. Pengalaman – pengalaman sekolah anak mempengaruhi industry dan inferiority anak. Anak dengan IQ 80 atau 90 akan mempunyai pengalaman sekolah yang kurang memuaskan walaupun sifat industry dipupuk dan dikembangkan di rumah. Ini dapat menimbulkan rasa inferiority (rasa tidak mampu). Keseimbangan industry dan inferiority bukan hanya bergantung kepada orang tuanya, tetapi dipengaruhi pula oleh orang- orang dewasa lain yang berhubungan dengan anak itu.

  1. 5.        Identity vs Role Confusion / Identitas (12;0 – 18;0)

Pada saat ini anak sudah menuju kematangan fisik dan mental. Ia mempunyai perasaan -perasaan dan keinginan – keinginan baru sebagai akibat perubahan-perubahan tubuhnya. Pandangan dan pemikirannya tentang dunia sekelilingnya mengalami perkembangan. Ia mulai dapat berpikir tentang pikiran orang lain. Ia berpikir pula apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya. Ia mulia mengerti tentang keluarga yang ideal, agama dan masyarakat yang dapat diperbandingkannya dengan apa yang dialaminya sendiri.

Menurut Erikson pada tahap ini dimensi interpersonal yang muncul adalah :

Ego identity                                     role confusion

Pada masa ini remaja harus dapat mengintegritaskan apa yang telah di alami dan dipelajarinya tentang dirinya sebagai anak, siswa, teman, anggota, pramuka dan lain sebagainya menjadi satu kesatuan sehingga menunjukan kontinuitas dengan masa lalu dan siap meghadapi masa datang.

Peran orang tua yang pada masa lalu berpengaruh secara langsung pada krisis perkembangan, maka pada masa ini pengaruhnya tidak langsung. Jika anak mencapai masa remaja dengan rasa terima kasih kepada orang tua, dengan penuh kepercayaan, mempunyai autonomy, berinisiatif, memiliki sifat-sifat industry, maka kesempatan kepada ego indentiti sudah berkembang.

  1. 6.        Intimacy vs Isolation / Keakraban (19;0 – 25;0)

Yang dimaksud dengan intimacy oleh Erikson selain hubungan antara suami istri adalah juga kemampuan untuk berbagai rasa dan memperhatikan orang lain. Pada tahap ini pun keberhasilan tidak tergantung secara langsung kepada orang tua. Jika intimacy ini tidak terdapat diantara sesama teman atau suami istri, menurut Erikson, akan terdapat apa yang disebut isolation, yakni kesendirian tanpa adanya orang lain untuk berbagi rasa dan memperhatikan.

  1. 7.        Generavity vs Self Absorption / Generasi Berikut (25;0 – 45;0)

Generativity berarti bahwa orang mulai memikirkan orang – orang lain diluar keluarganya sendiri, memikirkan generasi yang akan datang serta hakikat masyarakat dan dunia tempat generasi itu hidup. Generativity ini bukan hanya terdapat pada orang tua (ayah dan ibu), tetapi terdapat pula pada individu-individu yang secara aktif memikirkan kesejahteraan kaum muda serta berusaha membuat tempat kerja yang lebih baik untuk mereka hidup. Orang yang tidak berhasil mencapai Generativity berarti ia  berada dalam keadaan self  absorption dengan hanya memutuskan perhatiah kepada kebutuhan-kebutuhan dan kesenangan pribadi saja.

  1. 8.        Integrity vs Despair / Integritas (45;0)

Pada tahap ini usaha-usaha yang pokok pada individu sudah mendekati kelengkapan, dan merupakan masa-masa untuk menikmati pergaulan dengan cucu-cucu. Integrity timbul dari kemampuan individu untuk melihat kembali kehidupannya yang lalu dengan kepuasan. Sedangkan kebalikannya adalah despair, yaitu keadaan dimana individu yang menengok ke belakang dan meninjau kembali kehidupannya masa lalu sebagai rangkaian kegagalan dan kehilangan arah, serta disadarinya bahwa jika ia memulai lagi sudah terlambat.

Sebagai rekapitulasi dapat dinyatakan bahwa penahapan perkembangan afektif manusia merupakan perpaduan dari tugas-tugas perkembangan dan tugas – tugas sosial. Perkembangan afektif suatu tahap dapat berpengaruh secara positif maupun negatif terhada tahap berikutnya. Jika anak mencapai tahap ketiga yang bergaul dengan anak bukan hanya orang tuanya saja melainkan juga orang dewasa lainnya disekolah, yaitu guru.

  1. E.     POLA PERKEMBANGAN  KOGNITIF DARI JEAN PIAGET

Perkembangan kognitif  anak berlangsung secara teratur dan berurutan sesuai dengan perkembangan umurnya. Maka pengajaran harus direncanakan sedemikian rupa disesuaikan dengan perkembangan kecerdasan peserta didik. Piagiet mengemukakan proses anak sampai mampu berpikir seperti ornag dewasa melalui empat tahap perkembangan, yakni :

  1. Tahap Sensori motor (0;0 – 2;0)

Kegiatan intelektual pada tahap ini hampir seluruhnya mencakup gejala yang diterima secara langsung melalui indra. Pada saat anak mencapai kematangan dan mulai memperoleh keterampilan berbahasa, mereka mengaplikasikannya dengan menerapkannya pada objek – objek yang nyata. Anak mulai memahami hubungan antara benda dengan nama yang diberikan kepada benda tersebut.

  1. 2.         Tahap praoperasional (2;0 – 7;0)

Pada tahap ini perkembangan sangat pesat. Lambang-lambang bahasa yang dipergunakan untuk menunjukan benda-benda nyata bertambah dengan pesatnya. Keputusan yang diambil hanya berdasarkan intuisi bukan berdasarkan analisis rasional. Anak biasanya mengambil kesimpulan dari sebagian kecil yang diketahuinya, dari suatu keseluruhan yang besar.

  1. 3.         Tahap operasional konkrit (7;0 – 11;)

Kemampuan berpikir logis muncul pada tahap ini. Mereka dapat berpikir secara sistematis untuk mencapai pemecahan masalah. Pada tahap ini permasalahan yang dihadapinya adalah permasalahan yang konkrit.

Pada tahap ini anak akan menemui kesulitan bila diberi tugas sekolah yang menuntutnya untuk mencari sesuatu yang tersembunyi. Misalnya, anak sering kali menjadi frustasi bila disuruh mencari arti tersenbunyi dari suatu kata dalam tulisan tertentu. Mereka menyukai soal-soal yang tersedia jawabannya.

  1. 4.         Tahap operasional formal (11; – 15;0)

Tahap ini ditandai dengan pola berpikir orang dewasa. Mereka dapat mengaplikasikan cara berpikir terhadap permasalahan dari semua kategori, baik yang abstrak maupun yang kongkret. Pada tahap ini anak sudah dapat memikirkan buah pikirannya, dapat membentuk ide-ide, berpikir tentang masa depan secara realistis.

Sebelum menekuni tugasnya membimbing dan mengajar, guru atau calon guru sebaiknya memahami teori Piagiet atau ahli lainya tentang pola-pola perkembangan kecerdasan peserta didik. Dengan demikian mereka memiliki landasan untuk mengembangkan harapan-harapan yang realistis mengenai perilaku peserta didik.

  1. F.      TUGAS – TUGAS PERKEMBANGAN

Tugas perkembangan menurut Robert J. Havighurs adalah sebagai tugas yang muncul pada suatu periode tertentu dalam kehidupan individu. Yang merupakan keberhasilan yang dapat memberikan kebahagiaan serta memberi jalan bagi tugas-tugas berikutnya. Kegagalan akan menimbulkan kekecewaan bagi individu, penolakan oleh masyarakat dan kesulitan untuk tugas perkembangan berikutnya.

Tugas perkembangan pada masa kanak-kanak

  1. Belajar berjalan
  2. Belajar makanan padat
  3. Belajar mengendalikan gerakan badan
  4. Mempelajari peran yang sesuai dengan jenis kelaminnya
  5. Memperoleh stabilitas fisiologis
  6. Membentuk konsep-konsep sederhana tentang kenyataan sosial dan fisik
  7. Belajar menghubungkan dirii secara emosional dengan orang tua, kakak adik dan orang lain.
  8. Belajar membedakan yang benar dan salah

Tugas perkembangan masa anak

  1. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan tertentu
  2. Membentuk sikap tertentu terhadap diri sendiri sebagai organisme yang sedang tumbuh
  3. Belajar bergaul secara rukun dengan teman sebaya
  4. Mempelajari peranan yang sesuai dengan jenis kelamin
  5. Membina keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung
  6. Mengembangkan konsep-konsep yang diperlkan dalam kehidupan sehari-hari
  7. Membentuk kata hati, moralitas dan nilai-nilai
  8. Memperoleh kebebasan diri
  9. Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok dan lembaga-lembaga sosial

Tugas Perkembangan masa remaja

  1. Memperoleh hubungan-hubungan baru dan lebih matang dengan yang sebaya dari kedua jenis kelamin
  2. Memperoleh peranan sosial dengan jenis kelamin individu
  3. Menerima fisik dari dan menggunakan badan secara efektif
  4. Memperoleh kebebasan diri melepaskan ketergantungan diri dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
  5. Melakukan pemilihan dan persiapan untuk jabatan
  6. Memperoleh kebebasan ekonomi
  7. Persiapan perkawinan dan kehidupan berkeluarga
  8. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara yang baik
  9. Memupuk dan memperoleh perilaku yang dapat dipertanggung jawabkan secara sosial
  10. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman berperilaku

Tugas perkembangan masa dewasa awal

  1. Memilih pasangan hidup
  2. Belajar hidup dengan suami atau istri
  3. Memulai kehidupan berkeluarga
  4. Membimbing dan merawat anak
  5. Mengolah rumah tangga
  6. Memulai suatu jabatan
  7. Menerima tanggung jawab sebagai warga negara
  8. Menemukan kelompok sosial yang cocok dan menarik

Tugas – tugas perkembangan masa setengah baya

  1. Memperoleh tanggung jawab sosial dan warga negara
  2. Membangun dan mempertahankan standar ekonomi
  3. Membantu anak remaja untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia
  4. Membina kegiatan pengisi waktu senggang orang dewasa
  5. Membina hubungan dengan pasangan hidup sebagai pribadi
  6. Menerima dan menyesuiakan dir dengan perubahan – perubahan fisik sendiri
  7. Menyesuaikan diri dengan pertambahan umur

Tugas – tugas perekembangna orang tua

  1. Menyesuiakan diri dengan menurunnya kesehatan dan kekuatan fisik
  2. Menyesuaikan tubuh terhadap masa pensiun dan menurunnya pendapatan
  3. Menyesuiakan diri terhadap meninggalnya suami atau istri
  4. Menjalin hubungan dengan perkumpulan manusia usia lanjut
  5. Memenuhi kewajiban sosial dan sebagai warga negara
  6. Membangun kehidupan fisik yang memuaskan

Menurut Havighust setiap tahap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek – aspek lain, yaitu fisik, psikis, serta emosional, moral dan sosial. Dikemukakannya perkembangan yang dicapai individu pada masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, masa dewasa awal, masa setengah baya dan masa tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: